PERTANYAAN
:
Assalamu'alaikum wr wb,
bagaimana hukumnya mengubur / memendam mayyit tanpa dikafani akan tetapi ditaruh
dalam sebuah peti dan dikuburkan bersama peti itu ? Ditunggu
jawabannya ! [Brojol
Seno].
JAWABAN
:
Wa'alaykum salam wr wb.
Mengubur mayat dengan peti hukumnya makruh karena termasuk idho'atul
maal.Terkecuali jika tanah pemakaman berair atau karena kemaslahatan
lainnya
اعانة
الطالبين ٢/١١٧مكتبة طه فوترا
و
كره صندق الالنح نداوة فيجب........قوله وكره صندوق) اى جعل الميت فيه لانه ينافى
الاستكانة و الذل المقصودين من وضعه فى التراب و لان فيه اضاعة مال و عبارة الروض و
شرحه و يكره صندوق اى جعل الميت فيه و لا تنفذ و صيته بذلك فان احتيج الى الصندوق
لنداوة و نحوها كرخاوة فى الارض فلا كرهة و هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس
المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه الواجب انتهى ملخصا
Jika menilik lafadz
:
و
هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه
الواجب
Meski peti sangat
diperlukan demi kemaslahatan mayit, tetapi tak dapat menggugurkan kewajiban
pengkafanan.
Sekira mayat dimasukkan
peti tapi tidak dikafnani maka ia ibarat orang dalam kamar yang telanjang
padahal penutupan aurat pada haq Allah adalah lebih utama ;
اعانة
الطالبين ٢/ ١١٢
لان
ساتر العورة حق الله تعالى قياسا على الحي قال الكردى حاصل ما اعتمده الشارح فى
كتبه ان الكفن ينقسم على اربعة اقسام حق الله تعالى و هو ساتر العورة و هذا لا يجوز
لاحد اسقاطه مطلقا....
Mayit dibungkus dengan daun
pisang ? jangankan daun pisang rumput-rumputan juga boleh, jika memang benar-benar tidak ditemukan kain kafan dan kulit hewan. Jika rerumputan pun tidak ada, bisa memakai tanah/lumpur, menurut satu pendapat syaikh kita.
و
يحرم التكفين فى جلد ان و جد غيره و كذا الطين و الحشيش فان لم يوجد ثوب وجب جلد ثم
حشيش ثم طين فيما استظهره شيخنا
Kita semua sudah sama-sama
tahu dan mengerti bahwa pengkafanan mayat adalah sebagian dari hal penting dan
wajib dalam prosesi tajhiz janazah. Hubungannya dalam hal ini bahwa kewajiban
menutup aurat atas orang yang masih hidup karena unsur efek yang berupa fitnah,
bukan karena aurat itu sendiri. Sehingga apabila seseorang telah meninggal dunia
maka padanya terdapat hak Allah yang harus dipenuhi, yakni menutup auratnya, dan
hak mayat yaitu menutup seluruh badannya. Oleh karena demikian, hak Allah tak
bisa gugur biar bagaimanapun, dan memasukkan mayat ke dalam peti mati itu belum
menggugurkan hak Allah, dan demikian juga hak mayat. Hal ini bisa diambil mafhum
dari ibarot berikut :
ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ
- ﺝ ٢ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٩
ﻓﻴﺠﺐ ﺇﻟﺦ ﺗﻔﺮﻳﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ
ﺑﺎﻟﺬﻛﻮﺭﺓ ﻭﺍﻷﻧﻮﺛﺔ.ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺮ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﺃﻱ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ.ﻗﻮﻟﻪ: ﻻﻥ ﺣﻖ
ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻱ ﻻﻥ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺣﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻲ.
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻜﺮﺩﻱ: ﺣﺎﺻﻞ ﻣﺎ ﺍﻋﺘﻤﺪﻩ
ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ ﻓﻲ ﻛﺘﺒﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻔﻦ ﻳﻨﻘﺴﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ،
ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻻﺣﺪ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻤﻴﺖ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻲ
ﺑﺈﺳﻘﺎﻃﻪ ﺩﻭﻥ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻐﺮﻣﺎﺀ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻐﺮﻣﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﺳﺘﻐﺮﺍﻕ
ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻭﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻼﺙ، ﻓﻠﻠﻮﺭﺛﺔ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ
ﻭﺍﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ. ﻭﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻗﺴﺎﻡ ﺇﻻ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﺎﻋﺘﻤﺪ ﺃﻥ ﻓﻴﻪ
ﺣﻘﻴﻦ، ﺣﻘﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﺣﻘﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ. ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺳﻘﻂ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺣﻘﻪ ﺑﻘﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻠﻴﺲ ﻷﺣﺪ
ﻋﻨﺪﻩ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺳﺎﺑﻎ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺪﻥ. ﺍﻫ.
Terkecuali situasinya
memang darurat, seperti tidak menemukan penutup sama sekali, maka memasukkan
mayat ke dalam peti mati sudah dianggap cukup, dan hal demikian wajib dilakukan.
Wallohu a'lam. [Abdur
Rahman Assyafi'i, Brojol Gemblung].
ﺇﻋﺎﻧﺔ
ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ٢ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٣١
ﻭﻟﻮ
ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺇﻻ ﺣﺐ، ﻓﻬﻞ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺑﺈﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﺳﺎﺗﺮ؟ ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ، ﻭﻻ ﻳﺒﻌﺪ
ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ.
LINK ASAL :