Jikalau memang mereka dakwah kepada tauhid, memberantas tahayul, bid'ah, khurafat dan syirik
maka mereka pastilah menjadi ulama yang ihsan atau ulama yang
berakhlakul karimah.
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam
bersabda
سيكون في أمتي اختلاف وفرقة ، قوم يحسنون القيل ويسيئون الفعل
“Akan ada perselisihan
dan perseteruan pada
umatku, suatu kaum yang memperbagus
ucapan dan memperjelek
perbuatan (akhlak yang
buruk) “.
يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ
" Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak
mendapat bagian sedikitpun
dari Al-Quran ". (Sunan Abu Daud : 4765)
Urutannya adalah ilmu -> amal -> akhlak
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda: “Barangsiapa
yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada
Allah melainkan bertambah jauh“
Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang
berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang
mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin
dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).
Sebagaimana
diperibahasakan oleh orang
tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin
berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak
sombong.
Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim
yang berakhlakul karimah
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda “Sesungguhnya
aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan
Akhlak.” (HR Ahmad)
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS
Al-Qalam:4)
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
Ulama yang dekat dengan Allah adalah ulama yang ihsan atau
ulama yang berakhlakul
karimah.
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau
menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah)
kepada Allah seakan-akan
kamu melihat-Nya
(bermakrifat), maka
jika kamu tidak melihat-Nya
(bermakrifat) maka
sesungguhnya Dia
melihatmu.” (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin
diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain
bashiroh), setiap akan
bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan
sesuatu yang dibenciNya
, menghindari
perbuatan maksiat, menghindari
perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau
muslim yang ihsan.
Muslim yang memandang Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh)
atau muslim yang bermakrifat
adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan
“Asy-Syahid untuk
menunjukkan sesuatu
yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga
seakan-akan pemilik
hati tersebut senantiasa
melihat dan menyaksikan-Nya,
sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia
adalah seorang syahid (penyaksi)”
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana
saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana
Anda melihat-Nya?” tanyanya
kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan
pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya:
“Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah
melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat
dengan mata yang memandang,
tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai
kemuliaanNya, sehingga
tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah
menjelma dalam kesempurnaan,
keindahan dan keagunganNya,
sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan,
bagaimana Engkau tersembunyi
padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib,
padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang
memberikan petunjuk
dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla
dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang
mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.
Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi
lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada
ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi
benar. Jika sudah benar sempurnalah
semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala
perbudakan duniawi
kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla
secara total dan senantiasa
terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Dr. Sri Mulyati, MA (Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam sebuah wawancara
menyatakan bahwa
"untuk dapat melihat Allah dengan hati sebagaimana kaum sufi, tahapan pertama yang harus
dilewati adalah Takhalli, mengosongkan diri dari segala yang tidak baik,
baru kemudian sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus benar-benar mengisi kebaikan, berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan. Dan ini adalah bentuk
manifestasi dari
rahasia-rahasia yang
diperlihatkan kepada
hamba-Nya. Boleh jadi
mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki".
Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang
ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah
ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan
Perbuatan, dan ia jadi
merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia
akan terhalang (terhijab)
dari memandang gerak dan perbuatannya
sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam
anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap
kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam
memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan
buta mata hati.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Dan barangsiapa
yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia
akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang
benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uuna , "mereka tuli, bisu dan buta (tidak
dapat menerima kebenaran),
maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)" (QS Al
BAqarah [2]:18)
shummun bukmun 'umyun fahum laa ya'qiluuna , "mereka tuli (tidak dapat menerima
panggilan/seruan), bisu
dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al
Baqarah [2]:171)
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang
buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)
Ulama yang ihsan atau ulama yang berakhlakul karimah adalah ulama telah meraih
maqom (derajat) disisi Nya sehingga terbukti dapat menyaksikan Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain
bashiroh) dan akan berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Firman Allah ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya
kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan
keji dan mungkar) selama-lamanya,
tetapi Allah membersihkan
siapa saja yang dikehendaki…”
(QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya
Kami telah mensucikan
mereka dengan (menganugerahkan
kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
Dan sesungguhnya
mereka pada sisi Kami benar-benar
termasuk orang-orang
pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah
kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada
mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa
yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya),
mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang
yang dianugerahi
ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang
sebaik-baiknya .” (QS An
Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga
meraih maqom (derajat) disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali
Allah) adalah shiddiqin,
muslim yang membenarkan
dan menyaksikan
Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat.
Al-Hakim al-Tirmidzi
(205-320H/ 820-935M)
membagi maqamat al-walayah
(derajat kedekatan para Wali Allah ke dalam lima maqamat.
Kelima maqamat itu adalah:
al-muwahhidin
al-shadiqin
al-shiddiqin
al-muqarrabin
al-munfaridin
Pertama, al-muwahhidun
(penganut faham tauhid). Seorang yang mengesakan Allah disebut ahl al-tawhid. Seorang ahl al-tawhid telah keluar
dari kekufuran dan telah memiliki cahaya iman. Dengan modal tauhid
dan keimanan tersebut, ahl al-tawhid pada dasarnya telah mendekatkan diri kepada Allah. Al-Hakim
al-Tirmidzi menganggap hal ini sebagai awwal manazil
al-qurbah (permulaan
peringkat kedekatan kepada Allah); namun masih berada pada posisi
qurbat al-’ammah (kedekatan
secara umum), bukan qurbat al-awliyâ` (kedekatan para wali)
Kedua, al-shadiqun
yang juga dinamakan waliyy haqq Allah. Mereka adalah orang yang
memperoleh kewalian
setelah bertobat, bertekad bulat untuk menyempurnakan tobatnya, menjaga anggota tubuhnya
dari perbuatan maksiat, menunaikan al-faraidl (berbagai kewajiban), menjaga al-hudŭd (hukum dan
perundang-undangan
Allah), dan membatasi al-mubahat
(hal-hal yang dibolehkan).
Apabila berhadapan
dengan al-mahdlur (hal-hal
yang dilarang) akan berpaling dan menolak sehingga jiwanya
istiqamah.
Dinamakan waliyy haq Allah karena ibadah dan ketaatannya kepada Allah serta perjuangannya dalam melawan hawa nafsu
berlangsung secara
terus menerus tanpa pamrih, semata-mata karena menunaikan haqq Allah atas diri-Nya.
Kewalian ini dinamakan walayat haqq Allah min al-shadiqin (kewalian orang-orang yang benar dalam memenuhi haq Allah).
Ada dua ciri utama yang menjadi karakteristik awliya haqq Allah, yaitu:
(1) bertaubat secara benar dan memlihara anggota tubuhnya
dari hal-hal yang dilarang, dan (2) mengendalikan diri dari hal-hal yang dibolehkan.
Seorang waliyy haqq Allah, menurut al-Hakim al-Tirmidzi, mensucikan batinnya setelah merasakan
istiqamah dalam penyucian lahirianya.
Ia bertekad bulat untuk memenuhi dorongan rendah pada dirinya yang
berkenaan dengan al-jawarih
al-sab’a (tujuh anggota tubuh), yakni mata, lidah, pendengaran, tangan, kaki, perut, dan kemaluan.
Ketiga, al-Shiddiqin
adalah orang-orang
yang telah merdeka dari perbudakan
nafsu. Kemerdekaan
ini bukan bebas dari nafsu atau keinginan rendah; melainkan karena
nafsunya berhasil mengambil jarak dari kalbu mereka. Al-Shiddiqun kokoh dalam kedekatannya kepada Allah, bersikap shidq
(jujur dan benar) dalam prilakunya,
sabar dalam mentaati Allah. Menunaikan al-faraidl, menjaga al-hudŭd, dan mempertahankan posisinya dengan sungguh-sungguh.
Mereka mencapai ghayat al-shidq (puncak kesungguhan) dalam memenuhi hak Allah, berada
pada manzil al-qurbah (posisi yang dekat dengan Allah) dan
mendapatkan khǎlish
al-’ubŭdiyyah (hakikat
kehambaan). Mereka
dinamakan al-muhǐbŭn
(orang-orang yang
kembali).
Keempat, al-muqarrabŭn
mereka adalah al-shiddiqǔn
yang memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas kedekatannya kepada Allah pada martabat
al-muqarrabin
(martabat para wali yang didekatkan
kepada Allah), bahkan hingga berada di puncak kewalian.
Kelima, al-munfaridǔn.
Hakim al-Tirmidzi
berpandangan bahwa
para wali yang mengalami kenaikan peringkat dari maqamat al-muwahhidun, al-shaddiqun, al-shiddiqun, hingga al-muqarrabun diatas telah sempurna tingkat
kewalian mereka.hanya
saja Allah mengangkat
salah seorang mereka pada puncak kewalian tertinggi yang disebut
dengan malak al-malak dan menempatkan wali itu pada posisi bayn yadayhi (di
hadapan-Nya). Pada saat
seperti itu ia sibuk dengan Allah dan lupa kepada sesuatu selain
Allah.
Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini
berada pada maqam munfaridin
atau posisi malak al-fardaniyah,
yaitu merasakan kemanunggalan
dengan Allah.
Al-Hakim al-Tirmidzi
tidak menggunakan
istilah ittihad seperti Abu Yazid al-Busthami (w.261H-875M) atau hulul seperti al-Hallaj, atau wahdatul wujud seperti Ibn
‘Arabi (w.638H/1240M)
dalam menjelaskan
persatuan seorang wali dengan Allah. Ia menggunakan istilah liyufrida (agar manunggal / merasakan kemanunggalan).
Kewalian, dalam pandangan Al-Hakim al-Tirmidzi dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah
kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang hamba kepada Allah.
Aspek pertama merupakan wewenang mutlak Allah, sedangkan
aspek kedua merupakan perjuangan
seorang hamba dengan mendekatkan
diri kepada Allah.
Menurut al-Tirmidzi
ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih
derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan
golongan yang mendapat anugerah);
sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan
golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di
hadapan Allah semata-mata
karena karunia-Nya
yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur
kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.
Derajat kewalian itu mengalami pasang surut; namun, setelah
mengalami pengumulan
yang hebat, seorang wali berada di hadapan-Nya untuk kemudian masuk dalam
genggaman Tuhan. Pada situasi ini, seorang wali melihat kumiz min
al-hikmah (perbendaharaan
hikmah) dan tersingkaplah
baginya ilmu Allah, sehingga naiklah horizon pengetahuan wali tersebut dari pengenalan tentang ‘uyub al-nafs (rupa-rupa cacat dirinya) kepada pengetahuan tentang al-shifat wa al-asma
(sifat-sifat dan
nama-nama Allah), bahkan tersingkaplah baginya hakikat ilmu Allah.
Muslim yang dekat dengan Allah sehingga menjadi kekasih Allah
(Wali Allah) dirindukan oleh
para Nabi dan Syuhada
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda “sesungguhnya
ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para
Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada
hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu
wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya
berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“.
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum
yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada
hubungan kekeluargaan
dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas
mimbar-mimbar dari
cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila
para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab
shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya diantara
hamba-hambaku itu ada
manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula
syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para
Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu
dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang
saling menyayangi
karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah,
dan mereka itu saling menyayangi
bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu
bercahaya, dan sungguh
tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti
yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca
ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya
wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)
Ulama yang ihsan atau ulama yang berakhlakul karimah adalah salah satu tanda atau
ciri ulama yang sanad ilmu atau sanad gurunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan
ceritakanlah (apa yang
kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa
yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”
(HR Bukhari)
Hadits tersebut bukanlah menyuruh kita menyampaikan apa yang kita baca dan pahami sendiri dari
kitab atau buku
Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh
menyampaikan satu ayat
yang diperoleh dan didengar dari para ulama yang sholeh dan
disampaikan secara
turun temurun yang bersumber dari lisannya Sayyidina Muhammad
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh karenanya ulama dikatakan sebagai pewaris Nabi.
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi” (HR At-Tirmidzi).
Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama-ulama yang sholeh sebelumnya yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Pada hakikatnya
Al Qur’an dan Hadits disampaikan
tidak dalam bentuk tulisan namun disampaikan melalui lisan ke lisan para ulama yang
sholeh dengan imla atau secara hafalan.
Dalam khazanah Islam, metode hafalan merupakan bagian
integral dalam proses menuntut ilmu. Ia sudah dikenal dan dipraktekkan sejak zaman baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Setiap menerima
wahyu, beliau langsung menyampaikan
dan memerintahkan
para sahabat untuk menghafalkannya.
Sebelum memerintahkan
untuk dihafal, terlebih dahulu beliau menafsirkan dan menjelaskan kandungan dari setiap ayat yang baru
diwahyukan.
Jika kita telusuri lebih jauh, perintah baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menghafalkan Al-Qur’an bukan hanya karena
kemuliaan, keagungan
dan kedalaman kandungannya,
tapi juga untuk menjaga otentisitas Al-Qur’an itu sendiri. Makanya hingga
kini, walaupun sudah berusia sekitar 1400 tahun lebih, Al-Qur’an tetap
terjaga orisinalitasnya.
Kaitan antara hafalan dan otentisitas Al-Qur’an ini tampak dari kenyataan
bahwa pada prinsipnya,
Al-Qur’an bukanlah “tulisan” (rasm), tetapi “bacaan” (qira’ah). Artinya, ia adalah ucapan dan
sebutan. Proses turun-(pewahyuan)-nya maupun penyampaian, pengajaran dan periwayatan-(transmisi)-nya, semuanya dilakukan secara lisan dan
hafalan, bukan tulisan. Karena itu, dari dahulu yang dimaksud dengan
“membaca” Al-Qur’an adalah membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri
qalbin).
Dengan demikian, sumber semua tulisan itu sendiri adalah
hafalan, atau apa yang sebelumnya
telah tertera dalam ingatan sang qari’. Sedangkan fungsi tulisan atau
bentuk kitab sebagai penunjang semata.
Habib Munzir Al Musawa berkata “Orang yang berguru tidak
kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui
kesalahannya karena
buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah
atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak
faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya (dengan akal
pikirannya sendiri),
maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh
baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang
kita bisa tanya jika kita mendapatkan
masalah”
Salah satu ciri dalam metode pengajaran talaqqi adalah sanad. Pada asalnya,
istilah sanad atau isnad hanya digunakan dalam bidang ilmu hadits
(Mustolah Hadits) yang merujuk kepada hubungan antara perawi dengan
perawi sebelumnya pada
setiap tingkatan yang berakhir kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pada matan haditsnya.
Namun, jika kita merujuk kepada lafadz Sanad itu sendiri dari
segi bahasa, maka penggunaannya
sangat luas. Dalam Lisan Al-Arab misalnya disebutkan: “Isnad dari sudut bahasa terambil
dari fi’il “asnada” (yaitu menyandarkan) seperti dalam perkataan mereka:
Saya sandarkan perkataan ini kepada si fulan. Artinya, menyandarkan sandaran, yang mana ia diangkatkan kepada yang berkata. Maka menyandarkan perkataan berarti mengangkatkan perkataan (mengembalikan perkataan kepada orang yang
berkata dengan perkataan tersebut)“.
Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah
Al-Qur’an dan sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan
munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama,
kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja
yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Syafi’i mengatakan
“tiada ilmu tanpa sanad”.
Imam Malik berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau
pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat)
pendidikannya (sanad
ilmu) dan dari orang yang mendustakan
perkataan ulama meskipun dia tidak mendustakan perkataan (hadits) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”
Al-Hafidh Imam Attsauri mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan
orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir
QS.Al-Kahfi 60) ;
“Barangsiapa tidak
memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya
gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan
Juz 5 hal. 203
Ulama yang berakhlak buruk adalah tanda atau ciri seorang
ulama terputus sanad ilmu atau sanad gurunya. Tanda lainnya adalah
pemahaman atau pendapat ulama tersebut menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu.
Asy-Syeikh
as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu
menghafazh bukan
sekadar untuk meriwayatkan
tetapi juga untuk meneladani
orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya
itu juga meneladani
orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu
meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian,
keterjagaan al-Qur’an
itu benar-benar
sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“
Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang
paling baik ?”
“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya”
Jawab Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah
shallallahu aliahi
wasallam bersabda “Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus
hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)
Sayyidina Umar ra menasehatkan, “Jangan pernah tertipu oleh
teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang
yang menyampaikan amanah
dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“
Sayyidina Umar ra juga menasehatkan “Orang yang tidak memiliki tiga
perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara tersebut adalah santun
ketika mengingatkan
orang lain; wara yang menjauhkannya
dari hal-hal yang haram /
terlarang; dan akhlak mulia dalam bermasyarkat (bergaul)“.
Rasulullah
bersabda: “Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no.
91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya
terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan
meremehkan manusia” (HR.
Muslim)
Dalam sebuah hadits qudsi , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Allah
berfirman, Keagungan
adalah sarungKu dan kesombongan
adalah pakaianKu.
Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya”. (HR. Muslim)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Kemuliaan
adalah sarung-Nya dan
kesombongan adalah
selendang-Nya. Barang
siapa menentang-Ku,
maka Aku akan mengadzabnya.”
(HR Muslim)
Para ulama tasawuf atau kaum sufi mengatakan bahwa hijab itu meliputi antara lain
nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap
fiqh yang terlalu formalistik
juga hijab, terjebaknya
orang dalam kenikmatan
ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll. Salah
satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat,
manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat
dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh)
Ulama yang berakhlak buruk adalah ulama yang tidak dapat
menyaksikan Allah
dengan hatinya atau ulama yang buta mata hatinya sehingga mereka tidak
dapat mengenal Allah dengan sebenar keagungan-Nya”. (QS Az Zumar [39]:67)
Contoh orang-orang
yang berakhlak buruk adalah kaum Yahudi, kaum yang dimurkai Allah
sebagaimana firmanNya yang
artinya
"yaitu orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka
yang dijadikan kera dan babi.” (QS al-Ma’idah [5]:60)
“Katakanlah:
apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di
antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut?
Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang
lurus ”. (QS Al-Maidah [5]: 60)
Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata,
“Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan
jalannya orang-orang
yang dimurkai’. Beliau
bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula
jalannya orang-orang
yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’
“Datang seorang pendeta (Yahudi) kepada Rasulullah, berkata: “Wahai Muhammad,
sesungguhnya Allah di
hari kiamat akan memegang seluruh lapisan langit dengan satu jari,
seluruh lapisan bumi dengan satu jari, gunung-gunung dan pepohonan dengan satu jari”.
Dalam satu riwayat mengatakan:
“Air dan tanah dengan satu jari, kemudian Allah menggerakan itu semua”. Maka Rasulullah tertawa, lalu bersabda dengan membaca
firmanNya yang artinya "Dan tidaklah mereka dapat mengenal Allah
dengan sebenar keagungan-Nya”.
(QS Az Zumar [39]:67)
Ibn Al Jawzi menjelaskan
bahwa “Tertawanya
Rasulullah dalam
hadits di atas sebagai bukti pengingkaran beliau terhadap pendeta (Yahudi)
tersebut, dan sesungguhnya
kaum Yahudi adalah kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (Musyabbihah). Lalu turunnya firman Allah: “وما
قدروا الله حق قدره” ("Dan tidaklah mereka dapat mengenal Allah
dengan sebenar keagungan-Nya”
(QS Az Zumar [39]:67) ) adalah bukti nyata lainnya bahwa Rasulullah mengingkari mereka (kaum Yahudi)”
Jikalau beri'tiqod
(berkeyakinan) dengan makna
dzahir maka "jari Allah" berada disetiap hati manusa
Dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya hati
semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah
Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu
wa Ta'ala akan memalingkan
hati manusia menurut kehendak-Nya.
(HR Muslim 4798)
Ibn Al Jawzi berkata , "Hadits ini menunjukan bahwa hati setiap manusia di bawah
kekuasaan Allah. Ketika diungkapkan
“بين أصبعين”, artinya bahwa Allah sepenuhnya menguasai hati tersebut dan Allah maha
berkehendak untuk
“membolak-balik” hati setiap
manusia.
Dari Syahru bin Hausyab berkata; saya telah mendengar Ummu
Salamah meceritakan
bahwa Rasulullah
shalallahu'alaihi wa
sallam memperbanyak
dalam do'anya: ALLAHUMMAA
MUQALLIBAL QULUB
TSABIT QALBI 'ALA DINIK (Ya Allah, yang membolak balikkan hati,
tetapkanlah hatiku di
atas agamamu). Ia berkata; saya berkata; "Wahai Rasululah! Apakah hati itu berbolak balik?"
beliau menjawab: "Ya, tidaklah ciptaan Allah dari manusia anak
keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari
jari-jari Allah. Bila Allah Azza wa Kalla berkehendak, Ia akan meluruskannya, dan jika Allah berkehendak, Ia akan menyesatkannya. Maka kami memohon kepada
Allah; 'Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami
setelah kami diberi petunjuk.'
Dan kami memohon kepada-Nya
supaya memberikan
kepada kita rahmat dari sisinya, sesungguhnya dia adalah Maha Pemberi'." (HR Ahmad No 25364)
Ulama yang berakhlak buruk atau ulama yang buta mata hatinya
atau ulama yang tidak dapat menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) sehingga tidak mengenal Allah dengan
sebenar keagungan-Nya
adalah ulama yang terpengaruh
oleh aqidah kaum Yahudi yakni ulama yang berkata bahwa setiap yang
ada harus mempunyai arah dan tempat sehingga mereka beri'tiqod (berkeyakinan) bahwa Tuhan berada (bertempat) di atas 'Arsy. Arsy tidak kosong
walaupun Tuhan turun setiap malam ke langit dunia, ketika masih
tersisa sepertiga malam terakhir. Perkataan mereka "Arsy tidak kosong"
menunjukkan bahwa
Tuhan berada (bertempat)
dalam ruang di atas 'Arsy dan mempunyai bentuk sehingga "tidak kosong"
ruang di atas 'Arsy.
Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman
Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman
‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata “Dia tidak diliputi oleh
tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia
Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan”
Dalam kitab al-Washiyyah,
Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:
“Kita menetapkan
sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan
dalam pengertian
bahwa Dia bertempat di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah
membutuhkan kapada
makhluk-Nya maka
berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah
maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah
membutuhkan untuk
duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika
sebelum menciptakan
arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia
berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci
dari pada itu semua dengan kesucian yang agung”
Ulama yang berakhlak buruk adalah serupa dengan orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yakni
orang-orang menampakkan ke-sholeh-an di hadapan orang banyak dalam
bentuk tanda-tanda atau
bekas ibadah sunnahnya namun berakhlak buruk seperti
1. Suka mencela dan mengkafirkan kaum muslim
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun
lemah lembut kepada kaum Yahudi.
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda yang artinya, “Dari kelompok orang ini, akan muncul
nanti orang-orang
yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh
orang-orang Islam, dan
membiarkan para
penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang
meluncur dari busurnya“.
(HR Muslim 1762)
Sabda Rasululullah
yang artinya "mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala" maksudnya
mereka memahami Al Qur'an dan Hadits dan berkesimpulan kaum muslim lainnya telah musyrik
(menyembah selain
Allah) sehingga membunuhnya
namun dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan para penyembah berhala yang sudah
jelas kemusyrikannya.
Penyembah berhala adalah kaum Yahudi yang sekarang dikenal sebagai
kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason, iluminati, lucifier yakni kaum yang meneruskan keyakinan pagan (paganisme) atau penyembah berhala
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan setelah datang
kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka,
sebahagian dari
orang-orang yang
diberi kitab (Taurat) melemparkan
kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan
mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan
mereka mengatakan
bahwa Sulaiman itu mengerjakan
sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:101-102)
Dalam syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd ra bertanya
kepada Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam tentang orang-orang
seperti Dzul Khuwaisarah at
Tamimi an Najdi dengan pertanyaan
“Wahai Rasulullah,
orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak
menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang
selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam
(tahajjud) dan janggut
mereka pun lebat”
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”
Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
Nabi shallallahu
alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku,
bersikaplah penuh
kasih, cintai orang-orang
miskin dan papa, bersikaplah
lemah-lembut, penuh
perhatian dan cintai saudara-saudaramu
dan jadilah pelindung bagi mereka.”
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam menegaskan
bahwa ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi tidaklah cukup
jika tidak menimbulkan
ke-sholeh-an seperti
bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh
perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi
mereka.
Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh
Allah adalah
1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim
2. Bersikap keras (tegas /
berpendirian)
terhadap orang-orang kafir
3. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
4. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di
antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu
kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya),
lagi Maha Mengetahui.” (QS
Al Ma’iadah [5]:54)
Orang-orang
seperti Dzul Khuwaishirah
At Tamim An Najdi dipanggil oleh Rasulullah sebagai “orang-orang muda” yakni mereka suka berdalil atau
berfatwa dengan Al Qur’an dan Hadits namun salah paham.
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda “Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda yang pemahamannya sering salah paham. Mereka banyak
mengucapkan perkataan
“Khairil Bariyyah” (maksudnya:
suka berdalil dengan Al Qur’an dan Hadits). Iman mereka tidak
melampaui tenggorokan
mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau
orang-orang ini
berjumpa denganmu perangilah
mereka (luruskan pemahaman mereka).” (Hadits Sahih riwayat Imam
Bukhari 3342).
“Orang-orang
muda” adalah kalimat majaz yang maknanya orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah.
Ulama seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi atau kaum
khawarij dalam berdakwah suka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir untuk menyerang kaum muslim
Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij
mengatakan: “Mereka
menggunakan ayat-ayat
yang diturunkan bagi
orang-orang kafir
lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4
halaman:197]
Orang-orang
seperti Dzul Khuwaishirah
dari Bani Tamim An Najdi, mereka menyempal keluar (kharaja) dari
mayoritas kaum muslim (as-sawadul
a’zham) yang disebut juga dengan khawarij. Khawarij adalah bentuk
jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda: “Sesungguhnya
Allah tidak menghimpun
ummatku diatas kesesatan.
Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari
rahimahullah yang menyatakan:
“Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas kaum muslim)“
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam bersabda “Sesungguhnya
umatku tidak akan bersepakat
pada kesesatan. Oleh
karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham
(mayoritas kaum muslim).”
(HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu
Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah
hadits Shohih)
Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu
mewasiatkan yang
artinya: ”Al-Jama’ah
adalah sesuatu yang menetapi al-haq walaupun engkau seorang diri”
Maksudnya tetaplah mengikuti Al-Jamaah atau as-sawad al a’zham
(mayoritas kaum
muslim) walaupun tinggal seorang diri di suatu tempat yang terpisah.
Hindarilah firqoh
atau sekte yakni orang-orang
yang mengikuti pemahaman seorang ulama yang telah keluar (kharaja)
dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham).
Dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya
ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama’ah, karena
Allah tidak akan mengumpulkan
umat Muhammad shalallahu
‘alaihi wa sallam dalam kesesatan.
Dan dalam hadits dinyatakan
bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah
belah menjadi kelompok-kelompok
maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk
menghindari terjatuh
ke dalam keburukan”.
Mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim
(as-sawadul a’zham)
salah satunya dikarenakan
salah memahami firman Allah ta’ala yang artinya “Dan jika kamu
menuruti kebanyakan
orang-orang yang di
muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan
belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”
(QS Al An’aam [6]:116)
Yang dimaksud “menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi” adalah menuruti
kaum musyrik. Hal ini dapat kita ketahui dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya pada surat tersebut.
Mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim
(as-sawadul
a’zham) karena mereka merasa sebagai yang dimaksud dengan Al Ghuroba
atau orang-orang yang
asing sebagaimana hadits
berikut
Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari
Marwan al-Fazari, Ibnu
Abbad berkata, telah menceritakan
kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim
dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam
muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing,
maka beruntunglah
orang-orang yang
terasing.” (HR Muslim 208)
Ghuroba atau "orang-orang
yang terasing" dalam hadits tersebut bukanlah mereka yang mengasingkan diri dari para ulama yang sholeh
atau mereka yang menyempal dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham)
Hal yang dimaksud dengan ghuroba adalah semakin sedikit kaum
muslim yang sholeh diantara mayoritas kaum muslim (as-sawad al
a’zham)
Rasulullah
shallallahu alaihi
wasallam besabda “Orang yang asing, orang-orang yang berbuat kebajikan ketika
manusia rusak atau orang-orang
shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang
mentaatinya”. (HR. Ahmad)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang
dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya
datang. Maka berbahagialah
bagi orang-orang yang
asing”. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda,
“Mereka yang memperbaiki
dikala rusaknya manusia”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani]
Pada akhir zaman salah satu tandanya adalah semakin sulit ditemukan
muslim yang sholeh
Dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau
berkata:” (Pada suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam
rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, “La ilaha illallah,
celaka (binasa) bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka.
Pada hari ini telah terbuka bagian dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti
ini”, dan Baginda menemukan ujung ibu jari dengan ujung jari yang
sebelahnya (jari
telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan
seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, Ya
Rasulullah! Apakah
kami akan binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Ya, jikalau
kejahatan sudah terlalu banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim
(as-sawadul
a’zham) karena beranggapan
mayoritas kaum muslim telah rusak.
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ
بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و
حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي
صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ
فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ
Telah menceritakan
kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari
Suhail bin Abu Shalih dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Demikian juga diriwayatkan
dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia
berkata; Aku membaca Hadits Malik dari Suhail bin Abu Shalih dari
Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila
ada seseorang yang berkata; ‘Celakalah (rusaklah) manusia’, maka sebenarnya ia sendiri yang lebih celaka (rusak) dari
mereka. (HR Muslim 4755)
Mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim
(as-sawadul a’zham)
karena menuhankan pendapat
(kaum) mereka sendiri (istibdad bir ro’yi) sehingga merasa (kaum)
mereka pasti masuk surga
Sayyidina Umar ra menasehatkan “Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap
pendapatnya sendiri.
Ketahuilah orang yang
mengakui sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang
yang mengatakan bahwa
dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka“
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830