oleh Zon Jonggol
Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa "aswaja adalah pencela sunnah
Rasulullah dan para ulama "
Aswaja hanyalah singkatan dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah jadi jika ada seseorang yang mengaku aswaja maka tentu dia tidak akan mencela sunnah Rasulullah maupun mencela ulama.
Contohnya jika seseorang aswaja menyebut-nyebut seputar berjenggot bukan berarti mencela sunnah
Rasulullah maupun mencela ulama
yang berjenggot.
Para Sahabat pun menyebut-nyebut seputar berjenggot ketika mereka menanyakan orang-orang seperti seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi yang berjenggot
Hal tersebut dapat kita ketahui dalam riwayat yang termuat pada Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 ketika menjelaskan tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij
****** awal kutipan ******
“Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah, orang ini
memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya
memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya
bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam
menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” (QS Ali Imran [3]:31)
Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
Nabi shallallahu alaihi
wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku,
bersikaplah penuh kasih, cintai
orang-orang miskin dan papa,
bersikaplah
lemah-lembut, penuh perhatian
dan cintai saudara-saudaramu dan
jadilah pelindung bagi mereka.”
***** akhir kutipan *****
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam
menegaskan bahwa ibadah kepada
Allah ta’ala yang dilaksanakan
oleh orang-orang seperti Dzul
Khuwaisarah at Tamimi an Najdi
atau khawarij tidaklah cukup jika tidak menimbulkan ke-sholeh-an seperti bersikap ramah, penuh kasih, mencintai
orang-orang miskin dan papa, lemah
lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi
mereka.
Intinya adalah jika kita menjalankan sunnah Rasulullah seperti berjenggot, seharusnyalah terwujud akhlakul karimah.
Hal tersebut serupa dengan sebuah nasehat yakni, "Janganlah jenggotmu menutup mata hatimu dan janganpula matamu tidak terbuka seperti mata kakimu untuk
melihat atau peduli dengan sekelilingmu ".
Orang-orang seperti
seperti Dzul Khuwaishirah dari
Bani Tamim An Najdi yakni orang-orang yang pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum
muslim (as-sawad al a’zham) yang disebut juga dengan khawarij. Khawarij adalah
bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.
Orang-orang seperti
Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An
Najdi , mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah
(hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas
mereka
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an.
Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat
kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an
dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun
ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai
melewati batas tenggorokan.
Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari
busurnya”. (HR Muslim 1773)
“Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan ” mempunyai makna
majaz yakni maknanya sholat mereka tidak sampai ke hati. Sholatnya tidak
mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sehingga mereka semakin jauh dari Allah
ta’ala
Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang shalatnya
tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari
Allah kecuali semakin jauh dariNya ” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025,
11/46)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ”
(QS al Ankabut [29]:45).
Orang-orang seperti
Dzul Khuwaisarah at Tamimi an
Najdi atau khawarij karena pemahaman mereka telah keluar (kharaja) dari
pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham) sehingga berani
menghardik Sayyidina Ali bin Abi
Thalib telah berhukum dengan thagut, berhukum dengan selain hukum Allah.
Semboyan kaum khawarij pada waktu itu adalah “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Sayyidina Ali ra menanggapi semboyan tersebut
berkata , “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).
Kaum khawarij salah memahami firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka
itu adalah orang-orang yang
kafir ”. (QS: Al-Maa’idah: 44). Kesalahpahaman kaum khawarij sehingga
berkeyakinan bahwa Imam Sayyidina Ali
ra telah kafir dan berakibat mereka membunuh Sayyidina Ali ra
Abdurrahman ibn Muljam
adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah,
melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan
Al-Qurannya sangat baik. Karena
bacaannya yang baik itu, pada masa Sayyidina Umar ibn Khattab ra, ia diutus
untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash. Namun, karena
ilmunya yang dangkal (pemahamannya tidak melampaui tenggorokannya) , sesampai di Mesir ia malah
terpangaruh oleh hasutan
(gahzwul fikri) orang-orang
Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun
terpengaruh. Ia
tinggalkan tugasnya mengajar dan
memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi
menjadi eksekutor pembunuhan Imam
Sayyidina Ali ra.
Orang-orang seperti
Dzul Khuwaishirah dari Bani
Tamim an Najdi atau khawarij suka mempergunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang kaum
muslim
Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka
menggunakan ayat-ayat yang
diturunkan bagi
orang-orang kafir lantas mereka
terapkan untuk menyerang orang-orang
beriman ”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4
halaman:197]
Orang-orang seperti
Dzul Khuwaishirah dari Bani
Tamim An Najdi oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dikatakan
sebagai “mereka yang membaca Al Qur’an tetapi tidak sampai melewati
kerongkongan ” (HR Muslim
1762)
“Tidak melewati kerongkongan ” mempunyai makna majaz yakni maknanya
"tidak sampai ke hati”. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak
menjadikan mereka
berakhlakul karimah.
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda
“Sesungguhnya aku
diutus (Allah) untuk menyempurnakan
Akhlak. ” (HR Ahmad)
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang
bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan
bertambah jauh “
Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat
hubungan dengan-Nya. Ilmu harus
dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan
semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah
(karunia hikmah) maka hubungannya
dengan Allah ta’ala semakin dekat sehingga meraih maqom disisiNya.
Sebagaimana
diperibahasakan oleh orang tua kita
dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan
beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.
Jadi kalau ada yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah dan mengamalkannya namun tidak
menjadikannya
berakhlakul karimah atau tidak
menjadikannya sholeh maka
kemungkinan besar adalah salah
dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah atau salah mengikuti atau
meneladani ulama atau gurunya.
Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang
paling baik ?”
“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya ” Jawab
Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah
shallallahu aliahi wasallam bersabda
“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus
hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)
Berikut adalah beberapa pesan dari Sayyidina Umar ra,
“Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara
tersebut adalah santun ketika mengingatkan orang lain; wara yang
menjauhkannya dari hal-hal yang
haram / terlarang; dan akhlak
mulia dalam bermasyarkat
(bergaul) “.
“Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap
pendapatnya sendiri.
Ketahuilah orang yang mengakui
sebagai orang cerdas sebenarnya
adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk
neraka “
“Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah
orang yang menyampaikan amanah dan
tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya “
“Jangan sampai kalian tertipu oleh puasa dan sholat seseorang. Tetapi
perhatikan
kejujuran, amanah dan
waranya “
“Nilai seseorang dilihat dari agamanya. Dasarnya adalah akal dan wibawanya terletak pada akhlak“
Kesimpulannya ketaatan
kepada Allah ta’ala tidak sempurna jika tidak menimbulkan kesholehan sosial
Diriwayatkan hadits
dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum
sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)
Aswaja hanyalah singkatan dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah jadi jika ada seseorang yang mengaku aswaja maka tentu dia tidak akan mencela sunnah Rasulullah
Contohnya jika seseorang aswaja menyebut-n
Para Sahabat pun menyebut-n
Hal tersebut dapat kita ketahui dalam riwayat yang termuat pada Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 ketika menjelaska
****** awal kutipan ******
“Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah
Rasulullah
Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana
Nabi shallallah
***** akhir kutipan *****
Rasulullah
Intinya adalah jika kita menjalanka
Hal tersebut serupa dengan sebuah nasehat yakni, "Janganlah jenggotmu menutup mata hatimu dan janganpula
Orang-oran
Orang-oran
Rasulullah
“Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggoroka
Rasulullah
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhn
Orang-oran
Semboyan kaum khawarij pada waktu itu adalah “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Sayyidina Ali ra menanggapi
Kaum khawarij salah memahami firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiap
Abdurrahma
Orang-oran
Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan
Orang-oran
“Tidak melewati kerongkong
Rasulullah
Rasulullah
Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatu
Sebagaiman
Jadi kalau ada yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah dan mengamalka
Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah
“Ketika orang lain tidak (terancam)
Rasulullah
Berikut adalah beberapa pesan dari Sayyidina Umar ra,
“Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat
“Yang paling aku khawatirka
“Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara /
“Jangan sampai kalian tertipu oleh puasa dan sholat seseorang.
“Nilai seseorang dilihat dari agamanya. Dasarnya adalah akal dan wibawanya terletak pada akhlak“
Kesimpulan
Diriwayatk
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling
mengasihi,
mencintai, dan
menyayangi bagaikan satu tubuh.
Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut
terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya). ” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim
4685)
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran ”. (HR Muslim).
Habib Ali Al Jifri mengingatkan bahwa sebaiknya janganlah mencela orang yang
salah paham atau mencela orang yang sesat namun celalah
(luruskan)
kesalahpahaman atau
kesesatannya
***** awal kutipan *****
Maka tidak dibenarkan bagimu
untuk menghina seseorang.
Hinakanlah maksiat tapi
jangan kaum menghina pelaku maksiat.
Hinakanlah kufur tapi
jangan kau menghina orang kafir karena dzat yang dihinakan pada kafir itu adalah
hakikat kekufurannya, apakah
hakikat kekufuran itu ? yaitu orang yang mati dalam keadaan kufur tetapi selagi
dia hidup maka dia tidak boleh dihina karena sesungguhnya kita tidak mengetahui bagaimana dia akan mati maka kita tidak
dibenarkan menghina
seseorangpun dari makhluk Allah
Ada tiga jenis bentuk pandangan, sehingga kita tidak mendholimi hati ini (maksudnya adalah pandangan yang tidak boleh kita lakukan)
1. Melihat kepada aurot (yakni apa yang diingini nafsu) dengan pandangan Nafsu
2. Melihat dunia dengan pandangan pengagungan (Ainu al ta’dhim)
3. Melihat makhluk Allah dengan pandangan penghinaan (Ainu Al tahqir)
Tiga pandangan ini mudah mudahan kita dijauhkan dari padanya , kita berlidung dari tiga perkara ini dengan pandangan yang akan memberikan pancaran pada hati
ini, sedangkan pandangan yang dapat memberikan pancaran pada hati ini adalah :
1. pandangan yang dibenarkan
Allah Azza Wajalla untuk dilihat dengan pandangan tafakkur (Ainu Al
tafakkur)
2. pandangan kepada orang tua ,kepada ulama ,kepada saudara saudara muslim dengan pandangan kasih sayang /
cinta “Ainu Almahabbah”
3. pandangan kepada pelaku maksiat dengan pandangan belas kasihan (Ainu Al syafaqoh)
4. pandangan kepada orang yang taat dengan pandangan memuliakan (Ainu Al-ijlal)
***** akhir kutipan *****
Cintailah kaum muslim karena orang-orang yang tidak mencintai kaum muslim atau orang yang
mempunyai rasa permusuhan dengan kaum
muslim adalah kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang kaum Zionis Yahudi dan kaum
musyrik.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah
orang-orang Yahudi dan
orang-orang musyrik ” (QS Al
Maaidah [5]: 82)
Jadi kalau ada seorang muslim membenci muslim lainnya atau bahkan membunuhnya maka
kemungkinan besar dia adalah
korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.
Kaum yang dicintai-Nya
dan mereka mencintai Allah adalah kaum muslim yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad
dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang
murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintaiNya, yang
bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad
dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha
Mengetahui. ” (QS Al Ma’iadah
[5]:54)
Yang dimaksud “orang yang murtad dari agamanya” adalah orang-orang seperti Dzul
Khuwaishirah dari Bani Tamim An
Najdi.
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam
mengatakan bahwa
orang-orang seperti Dzul
Khuwaishirah dari Bani Tamim An
Najdi yang keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim dan
membiarkan para penyembah berhala
adalah mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya atau
murtad
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda
“Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti
orang-orang yang pandai membaca
Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh
orang-orang Islam, dan
membiarkan para penyembah berhala;
mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya . (HR
Muslim 1762)
Yang dimaksud dengan “membiarkan para penyembah berhala ” adalah
“membiarkan” kaum Yahudi.
Kaum Yahudi yang sekarang dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason,
iluminati, lucifier yakni kaum
yang meneruskan keyakinan pagan
(paganisme) atau penyembah berhala
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka,
sebahagian dari
orang-orang yang diberi kitab
(Taurat) melemparkan kitab Allah
ke belakang (punggung)nya,
seolah-olah mereka tidak
mengetahui (bahwa itu adalah
kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh
syaitan-syaitan pada masa
kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak
mengerjakan sihir), hanya
syaitan-syaitan lah yang kafir
(mengerjakan sihir). ” (QS
Al Baqarah [2]:101-102)
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda
yang artinya “Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman
tanganNya, tidaklah mendengar
dari hal aku ini seseorangpun dari
ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau
beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka. ”
Kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang dengan kaum Zionis Yahudi , Allah ta’ala menyampaikan dalam
firmanNya yang arti “yaitu orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara
mereka yang dijadikan kera dan babi.” (QS al-Ma’idah [5]:60)
Kaum Nasrani, Allah ta’ala menyampaikan dalam firmanNya yang arti “Dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum
kedatangan Muhammad) dan mereka
telah menyesatkan
kebanyakan
(manusia), dan mereka tersesat dari
jalan yang lurus. ” (QS al-Ma’idah: [5]:77)
Hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin
Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya
kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam
tentang orang-orang yang
dimurkai“, beliau bersabda,
‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“
Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya
kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya
orang-orang yang
dimurkai’. Beliau bersabda,
“Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya
orang-orang yang sesat’. “Beliau
bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’
Ciri-ciri lain dari orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi adalah
1. Suka mencela dan mengkafirkan kaum muslim
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun lemah lembut kepada kaum Yahudi. Mereka kelak bergabung dengan Dajjal bersama Yahudi yang telah memfitnah atau menyesatkan kaum Nasrani.
Rasulullah masuk ke
kamarku dalam keadaan aku sedang menangis. Beliau berkata kepadaku: ‘Apa yang
membuatmu menangis?’ Aku
menjawab: ‘Saya mengingat perkara Dajjal maka aku pun
menangis.’
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: ‘Jika dia keluar sedang aku masih berada di antara kalian niscaya aku
akan mencukupi kalian. Jika dia keluar setelah aku mati maka
ketahuilah Rabb kalian tidak
buta sebelah. Dajjal keluar bersama orang-orang Yahudi Ashbahan hingga datang ke Madinah dan
berhenti di salah satu sudut Madinah. Madinah ketika itu memiliki tujuh pintu
tiap celah ada dua malaikat yang berjaga. maka keluarlah
orang-orang jahat dari Madinah
mendatangi Dajjal.”
Dajjal tidak dapat melampaui Madinah namun orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi akan keluar dari Madinah
menemui Dajjal
Oleh karenanya orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi yang merupakan korban
hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi akan selalu membela,
bekerjasama dan mentaati kaum Zionis
Yahudi
Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya,
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?
Orang-orang itu bukan dari
golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk
menguatkan
kebohongan, sedang mereka
mengetahui “. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
“Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang
menyusahkan kamu. Telah nyata
kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.
Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya ” , (QS Ali Imran,
118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka
berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah
bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena
kemarahanmu itu”.
Sesungguhnya Allah
mengetahui segala isi hati “. (QS
Ali Imran, 119)
Kita harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya ghazwul fikri (perang
pemahaman) yang
dilancarkan oleh kaum Zionis
Yahudi sehingga suatu zaman yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Telah menceritakan
kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin
Abdurrahman dari Suhail dari
ayahnya dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kiamat tidak terjadi
hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga
orang Yahudi bersembunyi dibalik
batu dan pohon, batu atau pohon berkata, ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini orang
Yahudi dibelakangku,
kemarilah, bunuhlah dia, ‘ kecuali
pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi’.”
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830
Rasulullah
Habib Ali Al Jifri mengingatk
***** awal kutipan *****
Maka tidak dibenarkan
Hinakanlah
Hinakanlah
Ada tiga jenis bentuk pandangan,
1. Melihat kepada aurot (yakni apa yang diingini nafsu) dengan pandangan Nafsu
2. Melihat dunia dengan pandangan pengagunga
3. Melihat makhluk Allah dengan pandangan penghinaan
Tiga pandangan ini mudah mudahan kita dijauhkan dari padanya , kita berlidung dari tiga perkara ini dengan pandangan yang akan memberikan
1. pandangan yang dibenarkan
2. pandangan kepada orang tua ,kepada ulama ,kepada saudara saudara muslim dengan pandangan kasih sayang /
3. pandangan kepada pelaku maksiat dengan pandangan belas kasihan (Ainu Al syafaqoh)
4. pandangan kepada orang yang taat dengan pandangan memuliakan
***** akhir kutipan *****
Cintailah kaum muslim karena orang-oran
Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-oran
Jadi kalau ada seorang muslim membenci muslim lainnya atau bahkan membunuhny
Kaum yang dicintai-N
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-oran
Yang dimaksud “orang yang murtad dari agamanya” adalah orang-oran
Rasulullah
Rasulullah
Yang dimaksud dengan “membiarkan
Kaum Yahudi yang sekarang dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason,
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarka
Rasulullah
Kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang dengan kaum Zionis Yahudi , Allah ta’ala menyampaik
Kaum Nasrani, Allah ta’ala menyampaik
Hadits yang diriwayatk
Hamad bin Salamah meriwayatk
Ciri-ciri lain dari orang-oran
1. Suka mencela dan mengkafirk
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun lemah lembut kepada kaum Yahudi. Mereka kelak bergabung dengan Dajjal bersama Yahudi yang telah memfitnah atau menyesatka
Rasulullah
Dajjal tidak dapat melampaui Madinah namun orang-oran
Oleh karenanya orang-oran
Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya,
“Tidakkah kamu perhatikan
“Hai orang-oran
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kita
Kita harus terus meningkatk
Telah menceritak
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830